Blog ini adalah renungan saya, tempat belajar pengetahuan yang saya perlukan menulis di abad ke 21.Mudah-mudahan berguna bagi pembaca.
Senin, 15 Juli 2013
Kamis, 16 Mei 2013
Akhir Abad 21: Hanya 10 Persen Bahasa Daerah yang Bertahan
Jarang Digunakan, Ratusan Bahasa Daerah di Indonesia Terancam Punah
Seorang pejabat Kemendiknas memperkirakan, pada akhir abad 21 ini hanya sekitar 10 persen saja bahasa daerah yang akan bertahan.
Kepala Bidang Peningkatan dan Pengendalian Bahasa Badan Bahasa Kementerian Pendidikan Nasional, Sugiyono mengatakan ratusan bahasa daerah di Indonesia terancam punah karena semakin jarang digunakan. Ia memperkirakan pada penghujung abad 21 ini hanya sekitar 10 persen saja yang akan bertahan.
Sugiyono mengatakan urbanisasi dan perkawinan antar etnis merupakan penyebab utama terancam punahnya ratusan bahasa daerah.
Sugiyono mengatakan, "Dari 746 bahasa daerah di Indonesia kemungkinan akan tinggal 75 saja. Dalam teorinya ada karena peperangan, bencana alam tetapi penyebab yang paling utama sekarang ini saya kira urbanisasi dan perkawinan antar etnis. Karena kalau dua orang dari daerah kemudian pindah ke Ibukota atau ke kota besar maka mereka akan berinteraksi dengan etnis lain lalu bahasa etnisnya sendiri itu akan ditinggalkan. Mereka akan memilih bahasa Indonesia sebagai penghubung antar etnik satu dengan etnik yang lain."
Sugiyono menjelaskan dari 746 bahasa daerah yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, hanya sembilan yang memiliki sistem aksara, yakni Aceh, Batak, Lampung, Melayu, Jawa, Bali, Bugis, Sunda, dan Sasak. Sisanya, kata Sugiyono, hanya diturunkan melalui tradisi lisan dan inilah yang perlu dikaji lebih jauh dan didokumentasikan agar tidak hilang.
Menurut Sugiyono, pihak Kementerian Pendidikan Nasional saat ini terus melakukan pengumpulan kosa kata dan merekamnya serta melakukan revitalisasi untuk menghidupkan kembali bahasa daerah dengan menggelar berbagai festival seni di daerah-daerah.
"Bahasa yang bertahan itu umunya punya sistem tulis artinya bahasanya sendiri mempunyai faslitas untuk merekam bahasa itu dalam media selain lisan, ini lebih banyak bertahan. Implikasinya bahasa yang punya sistem tulis itu pasti berkembang katakanlah Jawa, Sunda, Madura dan semua Melayu," kata Sugiyono.
Sementara, pengamat Bahasa dari Universitas Atmajaya Jakarta Bambang Kaswanti Purwo mengajurkan agar setiap orangtua terbiasa menggunakan bahasa daerah dirumahnya. Selain itu, Kementerian Pendidikan Nasional harus mulai mewajibkan setiap murid menguasai setidaknya satu bahasa daerah. Hal ini dilakukan agar bahasa daerah tidak punah.
Bambang Kaswanti Purwo mengatakan, "Masalahnya sekarang orangtua cenderung enggan menggunakan bahasa ibu (daerah) dan (hanya) menggunakan bahasa Indonesia, karena beranggapan untuk maju anak harus bisa berbahasa nasional. Kalau berbeda justru akan memperkaya anak, kita bagi tugasnya misalnya ayahnya bahasa Jawa, ibunya bahasa Sunda, sehingga anaknya mempunyai kesempatan belajar dua bahasa daerah sekaligus. Tapi kalau bahasa sampai punah, kita tidak mempunyai kekayaan bahasa itu lagi, padahal setiap bahasa memiliki kekhasan dan kekayaan masing-masing."
Badan PBB yang membidangi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Unesco telah mencanangkan tanggal 21 Februari sebagai bahasa ibu internasional. Hal itu dilakukan karena hampir semua bahasa daerah yang berada di sejumlah negara didunia telah terancam punah.
Sumber: http://www.voaindonesia.com/content/jarang-digunakan-ratusan-bahasa-daerah-di-indonesia-terancam-punah-130434473/98538.html.
Jumat, 03 Mei 2013
Karakteristik Guru Abad 21
Di abad ke 21, seorang guru harus bisa menggali kelebihan dan talenta anak dan
menjadikan dirinya sebagai seorang fasilitator yang bisa mengembangkan
talenta atau kemampuan anak tersebut secara maksimal.
Guru harus meng update diri dan kemampuannya sebagai
seorang tenaga pengajar yang fokus pada pengembangan kecerdasan anak baik itu
kecerdasan intelektual maupun emosional.
Guru atau pengajar tidak selalu harus
di posisi mengajari, berteman dengan
anak untuk lebih memahami karakter adalah hal yang dibutuhkan anak untuk mendorong
anak belajar dengan baik juga merupakan karakteristik yang harus dimiliki oleh
seorang guru. Untuk itu, dibutuhkan passion dan dedikasi tinggi terhadap
profesi yang satu ini.
Seorang guru adalah adaptor, communicator, learner,
visionary, leader, model, collaborator, risk taker.
Selengkapnya bisa dibaca di:
http://www.kesekolah.com/solusi-pendidikan/karakteristik-guru-abad-21.html
Metoda Baca Tercepat Abad 21
Sebuah website sangat mengejutkan saya mala mini. Website
milik Lembaga Pendidikan Subaca (Satu Jam Bisa Baca) itu mengklaim dirinya memperkenalkan
metode membaca tercepat di abad 21. Hanya dalam satu jam anak sudah mampu membaca?.
Subaca, adalah, sebuah Bisnis Les Baca Rumahan di bawah
naungan ” LEMBAGA PENDIDIKAN SUBACA” yang berkonsentrasi pada anak usia 3 tahun ke atas yang belum
bisa membaca ( Balita) dana anak-anak SD yang belum bisa baca, termasuk usia 40
tahun yang belum bisa membaca.
Menurut website ini, dengan Metode Baca Tercepat Abad 21,
yaitu METODE SUBACA ( Satu Jam Bisa Baca) ,mengatakan sudah membuktikan kecepatannya dalam mengajari
anak bisa membaca dan ketagihan membaca ke lebih dari 100 anak di Jepara,
Jateng.
Tapi saya jadi sedikit ragu, karena di satu paragraph website
ini mengatakan kemudian: “ Apalagi kami
berani memberikan Garansi mahir baca dalam 3 bulan ( 60 Jam pertemuan) , jika
tidak terbukti, maka anak anda akan kami privat gratis sampai bisa”.
Padahal, judulnya “Satu Jam Bisa Baca”!. Namanya juga iklan. Yang jelas, website ini membuat saya terhenyak dan menuliskannya
untuk Anda!.
Untuk orang tua yang punya anak-anak usia SD yang belum bisa baca bisa mencobanya dan bisa mengbungi website ini http://kartubaca.com/. Anda bisa juga membaca beberapa artikel soal membaca.
Kamis, 02 Mei 2013
Penulis Kreatif di Abad ke 21
Peralatan, dan keahlian
apa yang mungkin diperlukan penulis kreatif di abad ke-21? Bagaimana Anda
memposisikan diri secara strategis dalam membaca dan menulis di era baru ini?
Inilah beberapa
pertanyaan dalam sebuah panel diskusi para penulis di Fordham Lincoln Center,
South Lounge, AS, 5 Maret 2013 lalu.
Panelisnya terdiri dari:
Monica Ong, Adam Parrish, Danny Snelson,
para penulis negeri Paman Sam itu.
Pernahkah di negeri
kita ada diskusi tentang penulisan kreatif abad ke-21?
Keahlian Universitas Abad ke 21
Oleh: Jannerson Girsang
Malam ini saya membaca sebuah website Universitas Illinois, Amerika Serikat.Universitas ini sudah berani membuat "Iowa Core 21th CenturySkill"
Tentu merasa miris juga. Perguruan Tinggi kita masih terseok-seok untuk memenuhi persyaratan akreditasi perguruan tinggi.
Setiap lulusan Universitas
Iwoa harus memiliki keahlian yang diperlukan abad ke 21.
“Each Iowa student must
graduate with the 21st century skills necessary for a productive and satisfying
life in a global knowledge-based environment. Descriptions of the new global
reality are plentiful, and the need for new, 21st century skills in an increasingly
complex environment is well documented. In one form or another, authors cite
(1) the globalization of economics; (2) the explosion of scientific and
technological knowledge; (3) the increasingly international dimensions of the
issues we face, (i.e. global warming and pandemic diseases); and (4) changing
demographics as the major trends that have resulted in a future world much
different from the one that many of us faced when we graduated from high school
(Friedman, 2005 and Stewart, 2007). The trends are very clear that each Iowa
student will need essential 21st century skills to lead satisfying lives in
this current reality”.
Semoga Perguruan Tinggi di Indonesia juga mempersiapkan para mahasiswanya, pendukung proses belajar mengajarnya dengan keahlian abad ke-21.
Selengkapnya bisa dibaca di http://educateiowa.gov/index.php?option=com_content&view=article&id=2332&Itemid=4344.
Model Penulisan di Abad ke 21
Oleh: Jannerson Girsang
Beberapa website yang saya
temukan membicarakan bahwa di abad ke 21,
umat manusia di dunia menulis tidak seperti yang pernah ada sebelumnya, yakni bentuk cetak dan online.
Kita menghadapi tiga tantangan sekaligus peluang: membangun model baru
penulisan, mendesain kurikulum baru mendukung model tersebut, dan menciptakan
model mengajarkan kurikulum tersebut.
Sudahkah negeri Indonesia ini, sekaligus
para penulisnya menyadari tantangan dan peluang ini?.
Untuk perbandingan dengan negeri
kita, saya mencantumkan beberapa website yang membahas penulisan di abad ke-21 sebagai
referensi.
Website Universitas Illinois,
Amerika Serikat: http://www.uiwp.illinois.edu/Yancey.pdf.
Writing in the 21 Century.
Website National Council of Teacher of English, Amerika
Serikat http://www.ncte.org/press/21stcentwriting.
Writing in the 21 Century.
Saya membutuhkan informasi apakah Indonesia sudah membicarakan konsep menulis di abad ke 21 secara nasional.
Langganan:
Postingan (Atom)