Rabu, 01 Mei 2013

9 Tips Gaya Hidup Sehat Menuju Abad 21


9 Tips Gaya Hidup Sehat Menuju Abad 21
sxc.hu
 
TEMPO.CO, Jakarta - Dokter Phaidon L Toruan dalam sebuah bincang santai tentang penyakit di abad ke-21 di Jakarta beberapa waktu lalu mengatakan gaya hidup di abad ini mengerikan. Yaitu akan semakin bergantung dengan penyediaan makanan yang serba cepat atau siap saji. Pilihan makan ini disebabkan semakin mudahnya akses konektivitas dan menyebabkan kurangnya aktivitas fisik.

Tetapi, katanya, gaya hidup modern tersebut tidak bisa dihindari. Jeleknya lagi perubahan gaya hidup manusia modern pada abad ini diperparah dengan berkurangnya kualitas lingkungan hidup di tempat tinggal. Phaidon menuturkan tips supaya hidup sehat sebagai berikut:

1. Mengubah pola pikir

Hal yang paling mendasar untuk menjalankan pola hidup sehat dengan mengubah pola pikir supaya hidup mau serius mencanangkan hidup sehat. Setidaknya mesti ketat memiliki komitmen untuk menjalankan gaya hidup sehat dan praktiknya seperti agama, dengan harus mencari orang atau sosok yang benar-benar mampu sebagai teladan dan mau menyadarkan pentingnya hidup sehat.

2. Membutuhkan kemampuanl

Seperti halnya kecerdasan, kesehatan pun membutuhkan kemampuan supaya bisa serius bisa memiliki tubuh yang sehat, langsing, bugar, bergairah, dan relatif bebas. Kemampuan ini artinya akan menyesuaikan dengan jenis kelamin pria atau wanita, pekerja kantor atau ibu rumah tangga, usia, dan sebagainya.

3. Mencanangkan komitmen dan motivasi

Untuk menyukseskan gaya hidup sehat harus benar-benar mencari orang atau sosok yang mampu memotivasi dan serius mengajak hidup sehat. Selama prinsip ada teman atau mitra yang sama-sama serius untuk menjalankan pola hidup sehat.

4. Memiliki lingkungan yang sehat

Gaya hidup dbentuk oleh lingkungan. Apabila Anda ingin menukar gaya hidup harus dimulai dari lingkungan. Dengan mengubahnya berarti Anda akan memiliki banyak teman untuk berkomitmen menerapkan hidup sehat.

5. Rajin datang ke seminar kesehatan  
Berada di tempat yang benar, misalnya dengan rajin mengunjungi acara-acara seminar kesehatan atau berlatih dan datanglah ke berbagai klub kebugaran.

6. Membatasi konsumsi makanan 

Tidak selamanya bisa mengontrol makanan yang dikonsumsi. Tetapi ada baiknya juga untuk mulai serius dan tegas, misalnya membatasi makanan yang digoreng. Makanan yang digoreng dengan minyak panas tinggi bisa menyebabkan darah menjadi lebih kental dan memperberat kerja jatung di dalam tubuh kita.

7. Mengurangi minuman mengandung gula 
Sebaiknya mengurangi minuman yang mengandung gula, sebab gula akan mempercepat efek penuaan, obesitas yang berakibat pada penimbunan lemak di lever. Boleh pakai pemanis alami seperti gula aren ketimbang gula pasir.

8. Tekadkan diri dengan konsumsi makanan sehat 
Sebaiknya bersantap sayuran dan buah sebagai menu wajib yang sangat membantu mencegah penyakit

9. Menyertakan suplemen
 
Sebaiknya menyertakan suplemen sebagai suplemasi tambahan untuk membantu memenuhi nutrisi yang kurang di dalam tubuh.

HADRIANI P

Sumber:  http://www.tempo.co/read/news/2013/04/18/060474291/9-Tips-Gaya-Hidup-Sehat-Menuju-Abad-21.

Pergeseran Paradigma Belajar Abad 21


Tema pengembangan kurikulum 2013 adalah dapat menghasilkan insan Indonesia yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif melalui penguatan sikap (tahu mengapa), keterampilan (tahu bagaimana), dan pengetahuan (tahu apa) yang terintegrasi. Diakui dalam perkembangan kehidupan dan ilmu pengetahuan abad 21, kini memang telah terjadi pergeseran baik ciri maupun model pembelajaran. Inilah yang diantisipasi pada kurikulum 2013. Skema 1 menunjukkan pergeseran paradigma belajar abad 21yang berdasarkan ciri abad 21 dan model pembelajaran yang harus dilakukan.

iklan2-skema1

iklan2-gambar1

iklan2-gambar2

Sedang gambar 1 adalah posisi kurikulum 2013 yang terintegrasi sebagaimana tema pada pengembangan kurikulum 2013. Sudah barang tentu untuk mencapai tema itu, dibutuhkan proses pembelajaran yang mendukung kreativitas. Itu sebabnya perlu merumuskan kurikulum yang mengedepankan pengalaman personal melalui proses mengamati, menanya, menalar, dan mencoba (observation based learning) untuk meningkatkan kreativitas peserta didik. Di samping itu, dibiasakan bagi peserta didik untuk bekerja dalam jejaringan melalui collaborative learning. Pertanyaannya, pada pengembangan kurikulum 2013 ini, apa saja elemen kurikulum yang berubah? Empat standar dalam kurikulum meliputi standar kompetensi lulusan, proses, isi, dan standar penilaian akan berubah sebagaimana ditunjukkan dalam skema elemen perubahan.

Perubahan yang Diharapkan
Pengembangan kurikulum­­ 2013, selain untuk memberi jawaban terhadap beberapa permasalahan yang melekat pa­da kurikulum 2006, bertujuan ju­ga untuk mendorong peserta didik atau siswa, mampu lebih baik dalam melakukan observasi, bertanya, bernalar, dan meng­omunikasikan (mempresentasikan), apa yang di­ per­oleh atau diketahui setelah siswa menerima materi pembelaj­aran.

iklan2-skema2

Melalui pendekatan itu di­harapkan siswa kita memiliki kom­petensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang jauh lebih ba­ik. Mereka akan lebih kreatif, inovatif, dan lebih produktif. Sedikitnya ada lima entitas, masing-masing peserta didik, pendidik dan tenaga kepe­ndidikan, manajemen satuan pendidikan, Negara dan bangsa, serta masyarakat umum, yang diharapkan mengalami perubahan. Skema 2 menggam­barkan perubahan yang diharapkan pada masing-masing en­itas.

Sumber:  http://puskurbuk.net/web/pergeseran-paradigma-belajar.html

Presiden SBY: Jadilah Kartini Abad 21

Minggu, 21 April 2013, 07:41 WIB
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)
 
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menilai cara terbaik untuk berterima kasih kepada jasa-jasa Ibu Kartini adalah dengan menjadi Kartini-Kartini Abad 21.
 
"Cara terbaik untuk berterima kasih kepada Ibu Kartini, jadilah Kartini-Kartini Abad 21 untuk memajukan kehidupan bangsa," tulis Presiden Yudhoyono di akun jejaring sosial Twitternya, Minggu pagi, bertepatan dengan peringatan Hari Kartini.

Sepekan sejak diluncurkan secara resmi pada Sabtu (13/4), pengikut akun Twitter Presiden Yudhoyono telah menembus satu juta orang.

Sejauh ini Presiden Yudhoyono melalui akun Twitternya telah menyampaikan sejumlah pemikiran dan keputusannya terkait sejumlah hal antara lain terkait kecelakaan pesawat Lion Air di Denpasar, terkait arahan keterlambatan distribusi sebagian soal ujian nasional tingkat sekolah menengah atas dan juga arahan mengenai upaya untuk menjaga stabilitas pertanian melalui pengelolaan pupuk.

Kalangan masyarakat juga menyambut baik akun twitter Presiden Yudhoyono, @SBYudhoyono, dengan harapan bisa menyampaikan keluhan secara langsung dan dapat ditanggapi secara langsung pula oleh Presiden di sela-sela kesibukannya.

Sumber: http://www.antara.co.id. 








Suami Abad 21 Lebih Perhatian kepada Istrinya


Senin, 22 April 2013, 14:21 WIB

Keluarga harmonis/ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, MEDAN -- Psikolog Irna Minauli berpendapat, tantangan terhadap wanita di abad 21 akan terasa semakin berat, akibat peran ganda yang diembannya, sebagai ibu rumah tangga dan wanita karier.

"Antara karier dan rumah tangga. Inilah yang menjadi tantangan, bagimana seorang wanita dapat sukses di dalam keduanya," katanya di Medan, Senin (22/4), menanggapi Hari Kartini yang diperingati setiap 21 April.

Dituturkan Irna, ada pameo yang mengatakan tidak mudah menjadi seorang perempuan, sebab ia harus bisa berpikir seperti laki-laki, berperilaku seperti seorang perempuan terhormat, berpenampilan terhormat, berpenampilan seperti perempuan muda dan bekerja seperti kuda.

Beban yang diemban perempuan menjadi berlipat karena selain harus berkarier, mereka juga tidak dapat melepaskan diri dari tugas-tugas sehari-hari di rumah tangga. Bahkan, sekarang mulai terjadi pergeseran sebagai pencari nafkah, beratnya seringkali para suami mereka jarang yang mau turun tangan membantu.

Wanita sekarang sudah merambah dunia pekerjaan yang sebelumnya merupakan ranah laki-laki, sementara pada saat yang sama mereka juga tidak bisa melepaskan dirinya dari tanggungjawab sehari-hari di rumah.

"Di sisi lain, kaum laki-laki (suami) masih belum banyak yang mau terlibat ke dalam ranah domestik (urusan di rumah), padahal dalam banyak hal mungkin istrinya sudah sangat membantu dalam segi keuangan," katanya.

Menurutnya, laki-laki yang dibesarkan dalam budaya patrilinieal yang sangat kuat, seperti kebanyakan laki-laki Indonesia, termasuk juga di Sumatra Utara, membuat mereka sebagai 'raja'. Pekerjaan rumah tangga sering dianggap sebagai pekerjaannya kaum perempuan, sehingga dapat menurunkan harga diri dan pencitraan bagi laki-laki yang melakukannya.

Mungkin mereka merasa lebih baik menghabiskan waktunya 'nongkrong' di warung kopi dari pada membantu istri atau mengasuh anaknya. "Untungnya saat ini kondisi itu sudah mulai bergeser karena banyak laki-laki yang mulai mau membantu istrinya dan terutama mereka yang lebih peduli terhadap anak-anaknya," katanya mengakhiri.

Sumber:  http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/13/04/22/mlnb3y-suami-abad-21-lebih-perhatian-kepada-istrinya.  

Revolusi Pekerjaan Abad ke-21: Meringankan Beban Orang Lain


Oleh: Jannerson Girsang

Meringankan beban orang lain?.  Itulah prinsip bekerja di Abad ke-21, kalau kita mau bekerja dengan nyaman di abad yang penuh dengan luberan informasi ini dan sikap manusia yang makin egois.

Sekecil apapun yang kita lakukan yang meringankan beban orang lain akan sangat berharga dan disyukuri siapa saja yang masih berfikir normal. 

Kita harus selektif dalam memilih pekerjaan dan tentu saja informasi yang dibutuhkan. Sehingga apa yang kita kerjakan, setidaknya meringankan beban orang lain, memberi inspirasi kepada yang lain.
  
Bekerja keras, sukses dan mendapatkan upah yang besar, tidak menjamin kita merasa nyaman. Kita harus memiliki daya saing—keinginan untuk selalu lebih unggul, sehingga mampu berkontribusi positif sepanjang masa. Bekerja dengan hati: semua pekerjaan adalah meringankan beban yang lain.  
   
Masalahnya tidak sederhana!.

Kita harus mencintai pekerjaan kita, mencintai orang-orang yang bekerja sama dengan tim kita.  Kita harus memiliki daya saing pribadi, yang  sinergi kepada daya saing kelompok,  perusahaan bahkan Negara kita.

Jangan biarkan diri kita mengutuk “berkat”--pekerjaan yang sudah diberikan Tuhan!.

Untuk apa kita bekerja?. Hanya menerima gaji, sementara mengutuk orang yang membayar gaji kita?. Kita akan menjadi orang tak berguna dan Tuhan akan marah.

Tuhan menempatkan kita dimanapun dengan tugas utamannya: meringankan beban orang lain.

Memilih pekerjaan yang diminati dan posisi yang menantang akan membuat Anda bernilai dan mampu meringankan beban kita sendiri dan orang lain.   

Jujurlah pada diri sendiri, kepada kemampuan dan minat kita.  “Pastikan Anda berada di posisi yang Anda inginkan dan pastikan tugas ini adalah yang ingin Anda lakukan,” demikian kata buku: Revolusi Bisnis Abad ke 21 (Ricardo Semler, 2003).


Daya Saing: Menjadi Nomor 1 di Abad 21


Oleh: Jannerson Girsang

Hari ini saya merasa kurang enak badan, karena terlalu letih beberapa hari terakhir ini. Tetapi kondisi tidak fit bukan berarti tidak bisa menghasilkan sesuatu. Membaca!. Sebuah buku menarik di Google menarik perhatian saya dan membacanya sepintas. Judulnya “Menjadi No 1 di Abad ke-21”.

Daya saing menjadi kata kunci, hidup di abad ke 21. Kemajuan teknologi memang telah membuat hidup kita lebih mudah di dunia yang terbuka saat ini.  Di lain pihak  kita juga perlu energi yang lebih besar kalau ingin berada di dalam posisi unggul.

Apapun pekerjaan kita, apapun usaha kita, sekuat apapun Negara kita, akan menghadapi pesaing yang semakin besar. Posisi unggul saat ini, memiliki rakyat yang kaya dengan ide-ide baru, di lain tempat muncul kiat lain dengan daya saing yang lebih unggul. 

Satu-satunya cara untuk bertahan--apalagi ingin menjadi orang nomor 1, adalah memiliki daya saing. Setiap orang, perusahaan, lembaga akan dipengaruhi daya saing. Menghadapi tantangan masa kini, dan mempertanyakan asumsi dasar. Itulah kebijakan persaingan terbaik. Bukan menjelekkan atau merusak yang lain supaya kita kelihatan baik. 

Buku ini mengatakan: "Daya saing, seperti gravitasi memengaruhi segala sesuatu. Sebagian lebih terpengaruh dibanding yang lain karena ukuran dan posisi mereka, tetapi daya saing tidak bisa dihindari—tak ada tempat bersembunyi di dunia baru yang penuh tantangan ini”.   

Tak ada pilihan lain kecuali memahami dan beradaptasi dengan daya saing. Apa itu daya saing, cara kerjanya, cara daya saing mendefinisikan aturan sukses. Itulah inti buku ini.  

Daya saing (competitiveness) adalah “memiliki keinginan untuk bersaing”. Kata bersaing menunjukkan arti menjadi “saingan” atau berupaya menyamai (yang lain atau menyamai kualitas), dan pada akhirnya “berupaya keras meraih keunggulan”. 

Daya saing adalah meraih sesuatu tetapi tidak merugikan yang lain. (jelas perilaku korup bukan prinsip daya saing).  Tujuan akhir daya saing adalah meningkatkan keseluruhan tingkat kemakmuran sebuah Negara beserta masyarakatnya.  Menghasilkan suasana yang harmonis diantara sesama bangsanya dan dengan umat manusia di dunia ini.

Beda dengan pemahaman persaingan dari anak-anak sekolah yang tawuran, para politisi yang saling melemahkan untuk muncul seolah “unggul” di atas penderitaan orang lain.

Kemakmuran bangsa ditentukan tiga kekuatan utama: daya saing perusahaan—difokuskan pada keuntungan, daya saing manusia—difokuskan pada kesejahteraan personal, dan daya saing bangsa—difokuskan pada kemakmuran terus menerus. 

Daya saing perusahaan sangat tergantung pada asset non fisik, seperti merk, kesetiaan pelanggan, citra, keahlian, dan proses, yang secara umum tidak dapat dihitung dari nilai buku perusahaan. Negara memiliki “merek”—yakni citra Negara di luar negeri dan semua penilaian yang menyertainya.

Indonesia dengan citra negeri paling “korup” akan mempengaruhi bisnis dan daya saingnya. Selain kuat, persepsi yang sangat emosional dari sudut pandang daya saing sehingga tidak boleh diabaikan. 

Kita tidak boleh bangga  hanya karena memiliki kekayaan sumber daya alam. Sumber daya yang kaya tak serta merta membuat sebuah Negara memiliki daya saing yang kuat. Negara yang miskin sumberdaya alam seperti Singapura, Swiss, dan Irlandia justru maju dalam  daya saing. Sementara Negara-negara seperti Indonesia, Afrika Selatan, Brazil, India—negara-negara yang sangat kaya dengan sumberdaya alam, tetapi ketinggalan dalam mengembangkan daya saing.  

Daya saing-kemauan untuk lebih unggul dengan usaha-usaha yang kreatif, inovatif dan mensinergikan daya saing individu, organisasi/perusahaan dan negara. Butuh seorang pemimpin yang mampu berfikir jernih, menghargai harkat dan martabat manusia. 
       

Bagi yang mau membaca utuh bukunya, silakan beli di toko buku terdekat. Menjadi orang No 1 di Abad ke 21 (Stephanie Garelli, 2008). 

Selasa, 30 April 2013

Kurikulum 2013 dan Paradigma Belajar Abad 21

Pemerintah Indonesia akan menerapkan kurikulum baru tahun ini, untuk pendidikan di tingkat SD, SMP, SMA dan SMK, yang kita kenal sebagai kurikulum 2013. Telah muncul pro-kontra di kalangan pendidik dan masyarakat tentang sejumlah aspek dalam penerapan kurikulum 2013. Tulisan ini tidak ingin masuk ke arena pro-kontra tersebut, tetapi ingin menggarisbawahi bahwa perubahan kurikulum pada dasarnya adalah suatu keniscayaan, karena telah terjadinya pergeseran paradigma belajar abad 21.

Perubahan dan pembaruan kurikulum harus dipahami sebagai hal yang biasa, karena kurikulum memang harus selalu bersifat adaptif. Kurikulum harus mampu menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan, tuntutan kebutuhan, serta tantangan, yang selalu berubah sesuai perkembangan zaman. Abad 21 telah menghadirkan berbagai perubahan lingkungan yang mendasar, yang menuntut adaptasi tersebut.

Pihak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI sendiri tampak telah menyadari terjadinya pergeseran paradigma belajar pada abad 21. Ada empat aspek ciri abad 21 yang akan diangkat dalam tulisan ini, yaitu aspek informasi, komputasi, otomasi, dan komunikasi. Tiap aspek ini akan menuntut perubahan drastis, dari model pembelajaran lama ke model yang lebih pas dengan tuntutan zaman. Mari kita kupas aspek-aspek tersebut satu-persatu.

Generasi Google

Pertama, aspek informasi. Berbeda dengan era lama, di mana informasi terasa terbatas dan sulit dicari, kini informasi tersedia di mana saja, dan bisa diakses kapan saja. Bahkan banyak siswa SD dan SMP kini sudah terampil menggunakan Internet, serta memanfaatkan aplikasi Google sebagai mesin pencari informasi di dunia maya.

Siswa kini tidak harus bertanya kepada gurunya, untuk sekadar tahu tentang sesuatu. Bahkan, siswa yang rajin menjelajah situs-situs ilmu pengetahuan di dunia maya bukan tidak mungkin lebih tahu tentang perkembangan keilmuan terbaru dibandingkan guru yang malas memanfaatkan media Internet.

Oleh karena itu, model pembelajaran dalam kurikulum 2013 diarahkan untuk mendorong peserta didik mencari tahu dari berbagai sumber observasi, bukan diberitahu seperti era lama. Guru tidak selalu dianggap paling tahu tentang segalanya. Jadi, siswa didukung untuk aktif mencari informasi sendiri.

Kedua, aspek komputasi. Perkembangan teknologi komputer dan kecerdasan buatan (artificial intelligence) saat ini telah begitu pesat, sehingga banyak persoalan bisa dijawab secara cepat oleh komputer yang dilengkapi perangkat lunak yang tepat. Jika Anda merasa sakit, misalnya, Anda tidak harus bertemu langsung dengan dokter (manusia), tetapi bisa bertanya-jawab atau berkonsultasi dengan komputer, yang sudah dilengkapi perangkat kecerdasan buatan dalam ilmu kedokteran.

Oleh karena itu, dalam model pembelajaran yang baru, pembelajaran diarahkan agar peserta didik mampu merumuskan masalah (menanya), bukan hanya menyelesaikan masalah (menjawab). Jangan anggap remeh, karena untuk bisa merumuskan masalah dan mengajukan pertanyaan yang tepat, itu juga membutuhkan tingkat pemahaman dan kecerdasan tertentu.

Berpikir Analitis, Bukan Mekanistis

Ketiga, aspek otomasi. Kita tahu bahwa saat ini otomasi sudah menjangkau hampir segala pekerjaan rutin dan mekanistis di dunia industri. Penggunaan robot di pabrik pembuat mobil, misalnya, praktis sudah menggantikan fungsi manusia sebagai tenaga perakit. Untuk hal-hal yang rutin dan mekanistis, robot bahkan bisa bekerja lebih akurat dan cermat daripada manusia.

Dengan melihat konteks demikian, maka dalam kurikulum 2013, pembelajaran diarahkan untuk melatih siswa agar mampu berpikir analitis (pengambilan keputusan), bukan berpikir mekanistis (rutin). Peserta didik selayaknya tidak berpikir seperti robot atau mesin, yang tinggal melaksanakan arahan atau perintah.

Terakhir, aspek komunikasi. Di era lama, komunikasi sering berlangsung searah, seperti orang menonton siaran televisi atau membaca koran. Atau seperti komunikasi antara atasan dan bawahan, di mana si bawahan hanya menerima instruksi dan arahan, tanpa berhak mempertanyakan isi arahan. Si pengirim pesan dan penerima pesan sudah jelas dan tetap.

Tetapi di abad 21, komunikasi bisa berlangsung dari mana saja dan ke mana saja. Media online, misalnya, memudahkan terjadinya interaksi bolak-balik antara pengirim dan penerima pesan (komunikasi tidak cuma searah). Media sosial seperti Facebook, Twitter, dan blog, memungkinkan setiap warga memiliki media sendiri untuk berkomunikasi dan mengirim pesan ke audiens yang luas, bukan sekadar menerima informasi.

Maka model pembelajaran yang ditawarkan kurikulum 2013 adalah pembelajaran yang menekankan pentingnya kerjasama dan kolaborasi dalam menyelesaikan masalah. Adalah suatu yang absurd, jika di tengah keterbukaan informasi dan kemudahan berkomunikasi, ada pihak yang tertutup, terkucil atau menutup diri. Dalam dunia yang semakin terbuka dan kompleks, penyelesaian masalah tidak bisa dikerjakan sendiri, tetapi akan jauh lebih mudah jika dilakukan lewat kerjasama dan kolaborasi.

Ada banyak aspek belajar lain yang mungkin telah bergeser dari paradigma lama yang biasa kita kenal. Kurikulum 2013 memang disusun untuk mengantisipasi perkembangan. Masalahnya sekarang, seberapa siapkah sistem pendidikan kita dalam mengadopsi dan menerapkan kurikulum 2013 itu untuk tahun ini.

Kesiapan itu menyangkut sosialisasi kepada para guru, kepala sekolah, praktisi pendidikan, dan para pemangku kepentingan lain. Sosialisasi ini bukan sekadar tahu, tetapi juga mengerti dan menghayatinya. Juga, adanya dukungan tenaga, sumberdaya, perangkat teknis, dana, dan berbagai hal konkret lain. Mengingat arti penting dan strategis dari kurikulum 2013, kita berharap masalah yang menyangkut hal-hal teknis seperti ini dapat segera diatasi.